10 Upacara Adat di Indonesia, Metode Indah Transfer Nilai Antar Generasi

Tradisi adat unik di Indonesia sangat banyak. Hal ini tidak aneh mengingat suku-suku yang membentuk Indonesia juga sangat banyak. Ada ribuan Suku dengan ribuan bahasa tersebar dalam 17.000 pulau yang tentu saja masing-masing memiliki ritual adat yang unik khas. Adat itu umumnya merupakan percampuran antara kepercayaan lokal dengan nilai-nilai agama yang dianut oleh mayoritas anggota Suku.

Upacara Adat di Indonesia

Upacara Adat di Indonesia. Image: phinemo.com

Terlepas dari anggapan bahwa upacara adat mengandung unsur-unsur mitos dan tahayul, upacara adat perlu dihargai sebagai kekayaan bangsa. Sama halnya dengan senjata tardisional yang mengandung nilai nilai yang dibanggakan suku tersebut, upacara adat juga merupakan Cerminan dari nilai-nilai adat. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi di dalam masyarakat adat itu. Baik itu nilai penghormatan kepada leluhur seperti yang ada dalam upacara Ngaben di Bali. Atau nilai keberanian dan kepahlawanan seperti yang ada pada ritual lompat batu di Nias. Atau juga nilai kesetiaan yang ditunjukkan secara ekstrem pada ritual potong jari di Papua.

Berikut ini kami bawakan cerita dari pelosok nusantara, tentang Adat tentang ritual adat unik yang ada di 8 tempat yang tersebar dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia negeri ini .

  1. Upacara Adat Tabuik

Tabuik

Tabuik. Image: indonesiakaya.com

Festival Tabuik merupakan salah satu tradisi tahunan di dalam masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Perhelatan tabuik merupakan bagian dari peringatan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Dalam setiap Festival Pesona Hoyak Tabuik , masyarakat Pariaman akan membuat replika dari buraq yang membawa tabut atau peti kayu di atasnya.

Ritual Tabuik dibagi menjadi 7 (tujuh) tahap. Pertama, akan ada tradisi maambiak tanah sebagai bentuk representasi bahwa manusia berasal dari tanah.

Hari keenam dan ketujuh akan diikuti oleh banyak arak-arakan keliling kota dengan prosesi tabuik lenong, mengarak menara menggunakan kepala, dan maarak jari-jari.

Maarak saroban dilakukan di hari selanjutnya untuk memperingati pemenggalan Husein. Pada malam kesembilan, masyarakat akan terjaga untuk membuat tabuik yang akan diarak di hari esok.

Puncak dari prosesi ini adalah Tabuik naik Pangkek kemudian dilanjutkan dengan Hoyak Tabuik. Dalam prosesi ini, tabuik akan diarak keliling kota sebelum akhirnya dilempar ke laut sebagai simbolisasi Husein yang terbang ke surga.

  1. Upacara Adat Bakar Tongkang

Bakar Tongkang

Bakar Tongkang. Image: kemdikbud.go.id

Bakar Tongkang adalah upacara yang dilakukan oleh masyarakat etnis Tionghoa di Bagansiapiapi, Riau. Perayaan ini dilakukan tiap tanggal 16 bulan ke-5 kalender Cina.

Pembakaran tongkang menjadi simbol permulaan hidup baru bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Bagansiapiapi. Seperti para leluhur mereka yang membakar kapal tongkang mereka saat tiba di Bagansiapiapi dan memutuskan untuk menetap dan memulai hidup baru di kota tersebut.

Festival Bakar Tongkang diawali prosesi sembahyang di klenteng tertua di kawasan Pekong Besar, Ing Hok Kiong. Acara lalu dilanjutkan dengan pawai atau arak-arakan ke tempat pembakaran. Selanjutnya penetapan posisi haluan tongkang sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya atau Dewa Laut.

Setelah kapal tongkang diletakkan di haluan yang sudah ditetapkan dan kertas-kertas sembahyang dipasang di lambung kapal, kapal lalu dibakar sampai tiang layarnya yang tinggi tumbang. Arah tumbangnya diyakini sebagai arah datangnya rezeki dari laut. Selama ritual berlangsung, klenteng-klenteng di Bagansiapiapi melakukan upacara pemanggilan roh. Beberapa warga setempat bahkan secara sukarela bersedia menjadi medium untuk dirasuki roh tersebut.

  1. Upacara Adat Dugderan

dugderan

Dugderan. Image: detik.com

Dugderan adalah tradisi warga Semarang menyambut kedatangan Bulan Suci Ramadan. Dugderan biasanya diselenggarakan dilaksanakan satu hari sebelum bulan puasa. Acara Dugderan berisi karnaval yang diikuti pasukan merah putih, drumband, pasukan pakaian adat berbagai daerah, meriam, warak ngendok, serta berbagai kesenian.

Dugderan merupakan tradisi sejak tahun 1881. Kala itu RMT Aryo Purbaningrat untuk pertama kalinya membunyikan bedug dan meriam di Masjid Agung Semarang untuk memberitahukan awal bulan Ramadan

Arak-arakan dugderan yang dimulai dari depan kantor Balai kota di Jalan Pemuda menuju Masjid Kauman di Kawasan Pasar Johar Semarang. Di karnaval ini ada satu hal yang dianggap unik, yaitu keberadaan Warak Ngendok. Yaitu suatu makhluk imajiner yang hanya bisa dijumpai dalam Karnaval Dugderan

Meriahnya Dugderan, lanjut Hendrar, tak hanya terjadi pada puncak acara festival. Seminggu sebelum puncak festival, digelar pasar rakyat yang menjual aneka macam barang seperti mainan tradisional, busana muslim, hingga ragam kuliner yang tumpah ruah.

Silakan dilihat Tempat mengagumkan di Jawa Tengah.

  1. Upacara Adat Sekaten

Sekaten

Sekaten. Image: noviadinia

Perayaan Sekaten adalah rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun Nabi Muhammad yang diadakan oleh keraton Surakarta dan Yogyakarta. Rangkaian perayaan secara resmi berlangsung dari tanggal 5 dan berakhir pada tanggal 12 Mulud penanggalan Jawa.

Beberapa acara penting perayaan ini adalah dimainkan nya gamelan pusaka di halaman Masjid Agung masing-masing keraton, pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan rangkaian pengajian di serambi Masjid Agung.

Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 mulai jam 08.00 hingga 10.00 WIB. Dengan dikawal oleh 10 macam bregada  prajurit Kraton. Sebuah gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuran akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung.

Setelah didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan/ diperebutkan oleh masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah. Bagian gunungan yang diperoleh, dibawa pulang dan ditanam di sawah agar sawah menjadi subur dan bebas dari hama.

  1. Upacara Adat Kebo Keboan

Kebo-Keboan

Kebo-Keboan. Image: budayajawa.id

Kebo-Keboan adalah salah satu upacara yang diselenggarakan masyarakat Banyuwangi. Awal mulanya, upacara ini diadakan untuk memohon turunnya hujan saat musim kemarau panjang dan sebagai penolak bala. Dalam upacara ini terdapat beberapa dan atraksi yang menarik untuk dilihat dan menjadi event wisata tahunan kota Banyuwangi.

Seseorang yang terpilih untuk menjadi manusia kerbau dalam upacara ini harus didandani menyerupai kerbau (Kebo), yang diberi tanduk dan warna hitam diseluruh badan. Hal itu melambangkan bahwa kerbau adalah binatang yang kuat dan menjadi tumpuan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.

Kebo-keboan dilaksanakan hampir di semua Desa Osing di Kecamatan Singojuruh, seperti desa Alasmalang dan Aliyan. Pada desa Aliyan. Penentuan siapa yang menjadi manusia Kerbau tidak ditentukan oleh pemuka adat desa setempat, melainkan arwah leluhur yang memilih siapa saja yang menjadi keboan. Sedangkan di Desa Alasmalang, masyarakat desa yang menjadi pemeran manusia kerbau dipilih oleh pemuka adat Desa Alasmalang.

  1. Upacara Adat Omed Omedan

omed omedan

Omed-omedan. Image: liputan6.com

Tradisi Omed-omedan dilaksanakan oleh masyarakat Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar Selatan, Bali. Upacara adat ini diselenggarakan setiap tahun sehari setelah perayaan nyepi.

Omed-omedan berasal dari bahasa Bali yang artinya tarik-tarikan. Asal mula upacara ini tidak diketahui secara pasti, namun telah berlangsung lama sejak nenek moyang dan dilestarikan secara turun temurun.

Omed-omedan melibatkan sekaa teruna teruni atau pemuda-pemudi yang berumur 17 hingga 30 tahun dan belum menikah. Omed-omedan dimulai dengan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan. Usai sembahyang, peserta dibagi dalam dua kelompok, laki-laki dan perempuan.

Kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Peserta upacara ini terdiri dari 40 pria dan 60 wanita. Sisa peserta akan dicadangkan untuk tahap berikutnya. Cara omed-omedan ini adalah tarik-menarik menggunakan tangan kosong antara pria dan wanita dan disirami air. Upacara ini dilakukan hingga jam 17.00 waktu setempat

Perlu diketahui ini bukan ajang ciuman masal. Sesuai pakem yang ada, peserta omed-omedan dilakukan oleh anggota pemuda dan pemudi. Sedangkan tangan pemuda harus berada di lengan dan pinggul pemudi, sehingga pipi sama pipi dikatakan akan bertemu, sedangkan bertemunya bibir tidak akan terjadi.

Bisa dibaca juga Pura Bersejarah di Bali dan Jadwal Hari Rayanya.

  1. Upacara Adat Pasola

Pasola

Pasola. Image: gowherewhen.com

Tradisi Pasola diadakan di empat lokasi berbeda di kabupaten Sumbawa Barat secara bergiliran. Empat tempat tersebut adalah Kampung Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura. Waktu pelaksanaan Pasola ini sekitar bulan Februari sampai Maret pada setiap tahun, tergantung dari penanggalan Tradisional Sumba.

Kata Pasola berasal dari kata asola atau hola yang artinya lembing atau tombak. Dan kata dasar sola atau hola mendapat awalan pa yang artinya saling. Jadi Pasola adalah saling menombak atau menyerang dengan lembing atau bisa juga diartikan sebagai permainan ketangkasan melempar lembing atau tombak [tumpul] dari atas kuda ke arah “lawan” dalam rangkaian upacara tradisional suku Sumba yang menganut agama asli yang disebut Marapu.

Upacara pasola selalu diawali dengan serangkaian prosesi adat penangkapan nyale sebagai wujud rasa syukur terhadap anugerah Tuhan yang melimpah seperti kesuksesan panen. Setelah upacara penangkapan nyale sukses, kemudian dihidangkan di hadapan majelis Para Rato, maka setelah itulah upacara pasola dapat dilaksanakan.

  1. Upacara Adat Tiwah

tiwah

Tiwah. Image: nativesborneo

Tiwah merupakan upacara adat di daerah Kalimantan Tengah. Upacara ini adalah prosesi mengantarkan roh leluhur yang telah meninggal dunia ke lewu tatau bersama Ranying Hatalla (Sang Pencipta). Jenazah yang sudah dikubur akan digali lagi untuk diupacarai.

Banyaknya tahapan dalam upacara Tiwah membuat perayaan ini bisa berlangsung selama 7 hingga 40 hari.

Pertama, keluarga harus mendirikan balai nyahu, untuk menyimpan tulang belulang yang sudah dibersihkan. Kedua, keluarga harus membuat anjung-anjung yang jumlahnya harus sama dengan jenazah yang akan ditiwahkan.

Ketiga, keluarga memasukkan tulang belulang ke balai nyahu. Tahapan ini disebut Tabuh. Ini merupakan tahapan yang riskan karena disinilah roh mulai diantarkan ke lewu tatau. Tabuh dilakukan secara tiga hari berturut-turut.

Tahapan berikutnya adalah keluarga melakukan tarian Manganjan sambil mengelilingi sangkai raya dan sapundu. Sangkai raya merupakan tempat persembahan untuk Ranying Hatalla berada. Sapundu berfungsi sebagai tempat mengikat kerbau, sapi, ayam, atau babi yang nantinya akan dikurbankan. Hewan-hewan tersebut ditusuk dengan tombak hingga mati. Penombak pertama adalah orang tua dalam silsilah keluarga. Mereka percaya cucuran darah hewan tersebut akan menyucikan roh.

  1. Tatung

tatung

Tatung. Image: travelingyuk.com

Perayaan ini dilakukan pasca hari raya Imlek. Atraksi yang diberi nama pawai Tatung ini mengikuti tradisi Tionghoa yang berbaur dengan budaya Dayak yang hanya bisa disaksikan di Singkawang, Kalimantan Barat. Tatung dalam bahasa Hakka berarti orang yang dirasuki roh, dewa, leluhur, atau kekuatan supranatural. Pawai Tatung di Singkawang ini merupakan yang terbesar di dunia.

Upacara pemanggilan Tatung dipimpin oleh seorang pendeta. Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik, yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh baik terdiri dari roh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya.

Peserta pawai mengenakan kostum gemerlap pakaian kebesaran Suku Dayak dan negeri Tiongkok di masa silam. Atraksi Tatung dipenuhi dengan hal mistik dan menegangkan. Misalnya, ada Tatung yang  berdiri tegak di atas tandu menginjakkan kaki di sebilah mata pedang atau pisau. Ada pula yang menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri. Luar biasanya,  para Tatung itu sedikit pun tidak tergores atau terluka.

  1. Upacara Adat Rambu Solo

rambu solo

Rambu Solo. Iamge: nusantaranews.co

Tanah Toraja memiliki upacara adat yang populer yaitu upacara pemakaman yang bernama Rambu Solo. Masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan kepada keluarga yang masih hidup. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit. Karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup. Perlakuan diberikan berupa menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya.

Puncak upacara Rambu Solo biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini.

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja, yaitu  Aluk To Dolo, ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat roh sampai nirwana. Karena itulah pemakaman dilakukan di dinding-dinding tebing yang tinggi.

Bagi kalangan bangsawan yang meninggal, mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Upacara pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja. Pemotongan dilakukan dengan menebas leher kerbau menggunakan parang dengan sekali ayunan.

Add Comment