Mengagumkan, 8 Agama Asli Nusantara, Warisan Mulia yang Nyaris Terlupakan

agama asli nusantara

agama asli nusantara

Agama asli Nusantara. Frase ini mungkin agak asing di telinga sebagian rekan. Namun sebaliknya sangat akrab di telinga rekan lainnya. Saat departemen Agama memfasilitasi pembinaan pada beberapa agama, ada banyak sekali sistem kepercayaan yang tidak mendapat perhatian sejenis. Selain enam agama “resmi”, oleh pemerintah sistem kepercayaan spiritual lainnya ditetapkan sebagai aliran kepercayaan. Sebuah penggolongan yang jika dilihat dengan hati yang jujur, sangat terasa sebagai sebuah penurunan derajat.

Agama asli nusantara seperti Sunda Wiwitan, Kejawen, hingga Marapu sudah ada sejak dahulu kala. Mereka ada sebelum masuknya agama mayor dunia. Agama asli Nusantara telah menyatu dengan kehidupan adat istiadat manusia Indonesia.

Lihat juga candi-candi megah warisan leluur Nusantara.

8 Agama Asli Nusantara

Sebenarnya ada puluhan agama asli Nusantara. Namun karena keterbatasan ruang, kali ini kami hanya akan bicarakan 8 diantaranya. Itu pun secara gambaran besar saja. Untuk pembahasan lebih terperinci akan dibahas kemudian. Kami rencanakan akan menyusun artikel terpisah untuk masing-masing agama asli Nusantara itu.

  1. Sunda Wiwitan

sunda wiwitan

Masyarakat Sunda wiwitan. Image: kaskus.co.id

Sunda Wiwitan  adalah agama asli Nusantara yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Ada sementara pihak yang berpendapat bahwa Agama Sunda Wiwitan juga memiliki unsur monoteisme. Pemahaman mengenai di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi. Dewata maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam.

Agama asli nusantara Ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab Sanghyang siksakanda ng karesian. Sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti.

Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Budha. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran HIndu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam. Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran “Jatisunda”.

  1. Kejawen

kejawen

Kejawen Bonokeling. Image: antarafoto.com

Agam asli nusantara Kejawen adalah sebuah sisitem kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya bermakna suatu filsafat di mana keberadaanya ada sejak orang Jawa itu ada.

Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsif Jawa.

Sejak dulu, praktisi agama asli nusantara orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi  dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi . Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

  • Mamayu Hayuning Pribadhi(sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  • Mamayu Hayuning Kaluwarga(sebagai rahmat bagi keluarga)
  • Mamayu Hayuning Sasama(sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  • Mamayu Hayuning Bhuwana(sebagai rahmat bagi alam semesta)

Baca Juga Candi-Candi Indah Warisan Leluhur

  1. Marapu

marapu

Marapu. Image: doripos.com

aga,a sli nusantara Marapu adalah sebuah agama atau kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama asli  nusantara ini. Agama ini memiliki kepercayaan pemujaan kepada nenek moyang dan leluhur. Pemeluk agama Marapu percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal di dunia roh, yaitu di surga Marapu yang dikenal sebagai Prai Marapu.

Upacara keagamaan marapu seperti upacara kematian dan sebagainya selalu dilengkapi penyembelihan hewan seperti kerbau dan kuda sebagai korban sembelihan. Hal tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga di Pulau Sumba.

praktisi agama asli nusantara merapu percaya bahwa roh nenek moyang ikut menghadiri upacara penguburan dan karenanya hewan dipersembahkan kepada mereka. Roh hewan untuk roh nenek moyang dan daging atau jasad hewan dimakan oleh orang yang hidup. Sama halnya dengan upacara yang lain.

Marapu adalah makhluk-makhluk mulia yang mempunyai pikiran, perasaan, dan kepribadian seperti manusia, tapi dengan kepandaian dan sifat-sifat yang lebih unggul. Keturunan mereka ada yang menghuni bumi dan dianggap sebagai nenek moyang yang menjadi cikal-bakal dari kabihu-kabihu.

Setiap kabihu mempunyai marapu sendiri yang dipuja agar segala doa dan kehendak mereka disampaikan kepada Maha Pencipta. Para marapu diupacarakan dan dipuja dalam rumah-rumah, terutama di rumah besar atau pusat yang disebut uma bokulu atau uma bungguru. Di dalam rumah itulah dilakukan upacara-upacara keagamaan yang menyangkut kepentingan seluruh warga kabihu, misalnya upacara kelahiran, perkawinan, kematian, menanam, memungut hasil dan sebagainya.

  1. Buhun

Buhun

Ngertakeun Bumi Lamba.  Buhun. Image: www.mongabay.co.id/2018/07/03/foto-ngertakeun-bumi-lamba-tradisi-sunda-bersenyawa-dengan-bumi/

Di Indonesia, agama sli nusantara yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang. Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan di Indonesia (data tahun 2013).

Buhun adalah agama asli Nusantara dari tanah Sunda yang sudah ada sejak dahulu kala. Agama ini sering disebut dengan Jati Sunda dan belum bercampur dengan ajaran agama yang datang dari luar negeri. Buhun masih murni ajaran leluhur yang diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lain.

Dari etimologi bahasa Bu-hun berasal dari dua kata yaitu Bu dan Hun, Bu mungkin diambil dari kata Bu-yut atau Kabuyutan yang merupakan tempat pemujaan roh nenek moyang orang Sunda pada jaman dulu dan -Hun yang mungkin diambil dari kata Ka-Ru-Hun atau nenek moyang orang sunda. Banyak kata dalam Bahasa Sunda yang hampir mirip dengan kata Buhun

  1. Kaharingan

Kaharingan

Kaharingan. Image: quora.com

Nama Agama asli  nusantara di tanah borneo ini, berasal dari bahasa Sangen yang akar katanya adalah ’’Haring’’. Haring berarti ada dan tumbuh atau hidup yang dilambangkan dengan Batang Garing atau Pohon Kehidupan.

Lihat juga wisata alam indah di kalimantan

Menurut kepercayaan agama asli nusantara ini terdapat. Seperti dewa penguasa tanah, sungai, pohon, batu, dan sebagainya. Dewa tertinggi memiliki sebutan berbeda di antara sub suku Dayak. Dayak Ot Danum, misalnya, menyebut dewa tertinggi “Mahatara”, sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya “Ranying Mahatalla Langit”.

Penganut kepercayaan agama asli nusantara Kaharingan memiliki tempat pertemuan yang berfungsi semacam tempat ibadah. Balai ini  disebut dengan Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Juga memiliki waktu Ibadah rutin yang dilakukan setiap Kamis atau malam Jumat. Sedangakan untuk hari raya atau ritual penting dari agama Kaharingan adalah upacara Tiwah yaitu ritual kematian tahap akhir dan upacara Basarah,

Sebagai kepercayaan, agama asli nusantara Kaharingan memuat aturan hidup. Aturan hidup tersebut terdapat dalam sejumlah buku suci yang memuat ajaran dan juga seperangkat aturan adalah: Panaturan, Talatah Basarah, Tawar, Pemberkatan Perkawinan dan Buku Penyumpahan / Pengukuhan untuk acara pengambilan sumpah jabatan.

Sistem nilai yang dianut agama hindu nusantara Kaharingan disimbolkan dengan Pohon Kehidupan. Lambang memiliki rincian makna filosofis. Makna filosofisnya Pohon Batang Garing yang menyimbolkan antara pohon sebagai dunia atas dan guci sebagai dunia bawah. Dua dunia yang berbeda ini diikat oleh satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan.

Simbol pada Buah Batang Garing, melambangkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Nunu. Sementara Buah garing yang menghadap arah atas dan bawah mengajarkan manusia untuk menghargai dua sisi yang berbeda secara seimbang atau dengan kata lain mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Jadi inti lambang dari pohon kehidupan ini adalah keseimbangan atau keharmonisan antara sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.

  1. Ugamo Malim

Permalim

Ugamo Malim. Image: medanbisnisdaily.com

Ugamo Malim adalah agama asli nusantara dari Suku Batak di kawasan Toba. Jauh sebelum Islam, Kristen, dan Katolik dipeluk oleh masyarakat setempat. Agama ini memiliki kesamaan dengan Agama Kuno Yahudi yang terletak jauh berseberang samudera. Saat ini, Ugamo Malim telah dipeluk oleh 35 generasi suku Batak. Artinya, agama ini telah ada sejak 800 tahun yang lalu.

Sebagai penganut agaa sli nusantara Ugomo Malim. Orang Batak memahami dan memaknai religiusitas dengan memperlakukan alam sebagai tumpuan hidup. Hidup merupakan anugerah Mulajadi Nabolon yang harus dijaga, baik sebagai sumber kehidupan (keberadaan dirinya) maupun sebagai sumber penghidupan (keberlangsungan dan kepemilikan hidupnya).

Spiritualitas memelihara alam ciptaaan Mulajadi Nabolon, dipadukan dengan rasa syukur dan berserah diri pada kuasa Sang Pencipta dipelihara dengan rirual-ritual yang diselaraskan dengan kronologi KEHIDUPAN dan PENGHIDUPAN. Beberapa ritual tersebut dilaksanakan dalam bentuk upacara persembahan kepada sang Pencipta.

Dalam bahasa Batak, orang yang menganut dan mengikuti serta menghayati ajaran Ugamo Malim disebut par-Ugamo Malim, dan disingkatkan menjadi Parmalim.

Ringkasnya dapat diterangkan : Ugamo Malim adalah ajararan kepercayaan. Parmalim adalah orang penghayatnya. Bale Pasogit Parmalim adalah Pusat peribadatan Ugamo Malim. Punguan Parmalim memiliki maksud Tempat perhimpunan beribadah.

Unit warga parmalim bernaung dalam satu tempat Bale Parsantian yang dipimpin seorang Ulu Punguan. Ulu Punguan menjalankan tugas dan fungsi yang didelegasikan Ihutan Parmalim dari Bale Pasogit Parmalim. Ulu Punguan mewakili Ihutan Parmalim memimpin peribadatan dalam lingkup Punguan Parmalim yang dipimpinnya.

Lihat juga lokasi indah di ujung selatan Sumatera

  1. Tolotang

tolotong

Tolotang. Imgae: kaskus.co.id

Tolotang adalah agama asli nusantara dianut masyarakat di wilayah provinsi Sulawesi Selatan, terutama di  Kabupaten Sidrap.

Pendiri Tolotang adalah La Panaungi. Penganut Tolotang ini mengenal adanya Tuhan dan mereka lebih mengenalnya dengan nama Dewata SeuwaE yang bergelar PatotoE, Yang Menentukan Takdir. Tolotang adalah Agama asli nusantara yang mengenal Tuhan sejak sebelum kedatangan Agama-agama mayor di wilayah tersebut.

Ajaran Tolotang bertumpu pada lima keyakinan, yaitu:

  • Percaya adanya Dewata SeuwaE.
  • Percaya adanya hari kiamat.
  • Percaya adanya hari kemudian
  • Percaya adanya penerima wahyu dari Tuhan
  • Percaya kepada Lontara sebagai kitab suci Penyembahan To Lotang kepada Dewata SeuwaE.

Bagi Masyarakat penganut agama asli nusantara Tolotang, ritual Sipulung yang dilaksanakan sekali dalam setahun mengambil tempat di Perrynyameng yang merupakan lokasi kuburan I Pabbere. Sebagai kelengkapan ritual, masyarakat Towani Tolotang membawa sesajian berupa nasi dan lauk pauk.

Prosesi Sipulung berupa pembacaan Lontara yang merupakan kitab suci bagi penganut agama Tolotang oleh Uwatta, dimana masyarakat yang hadir pada saat itu memberikan daun Sirih dan Pinang kepada Uwatta.

  1. Madrais

madrais

Madrais. Image: kaskus.co.id

Pendiri Madrais adalah Pangeran Sadewa Alibasa Kusuma Wijaya Ningrat yang dikenal dengan Pangeran Madrais atau Kyai Madrais.

Pandangan hidup Agama Djawa Sunda (ADS), tentunya tidak terlepas dari pandangan hidup dari Pangeran Madrais selaku pendiri dari ADS tersebut. Pada awalnya sebagai pedoman Pangeran Madrais mengekspresikan pemikirannya dalam bentuk sebagai berikut.

  • Percaya ka Gusti Sikang Sawiji-wiji (percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa);
  • Ngaji Badan (mawas diri/introspeksi/retrospeksi);
  • Akur Rukun Jeung Sasama Bangsa (hidup rukun dengan sesama);
  • Hirup Ulah Pisah ti Mufakat (mengutamakan musyawarah)
  • Hirup Kudu Silih Tulungan (hidup harus saling tolong menolong).

Dalam keyakinan ADS, Tuhan tidak berada di sisi yang jauh, tapi selalu dekat. Bahkan, tidak dapat dipisahkan dari ciptaan-Nya, Para penghayat ADS menyebut Tuhan dengan sebutan Gusti Sikang Sawiji-Wiji. Wiji artinya adalah inti, yaitu inti dari kelangsungan kehidupan di dunia.

Tuhan adalah penyebab eksistensi manusia di muka bumi, karena itu keberadaan manusia tergantung sepenuhnya pada eksistensi Tuhan.

Pandangannya memperoleh wujud yang semakin jelas lewat ajaran pemikiran yang disebut dengan Pikukuh Tilu yang masih diterapkan dan masih dijalankan oleh para penghayat ADS di Cigugur. P ikukuh tilu artinya adalah “tiga peneguh yang menjadi landasan hidup manusia untuk mencapai kesempurnaan sebagai manusia”.

Tiga peneguh ini adalah pedoman yang berupa tiga ketentuan yang harus selalu dipegang dan dilakukan secara konsisten dalam kehidupan. Isi pikukuh tilu tersebut ialah ngaji badan, tuhu mituhu kana tanah, dan madep ka ratu-raja 3-2-4-5 lilima 6.

Ngaji badan berarti kita harus menyadari tentang adanya sifat-sifat lain yang ada di sekitar kita. Tuhu kana Tanah adalah tuhu atau bersikukuh kepada kebangsaan, jadi yang dimaksud dengan tuhu kana tanah adalah agar kita selaku manusia yang telah diciptakan menjadi anggota suatu bangsa harus mencintai bangsanya dengan cara melestarikan cara ciri bangsa sendiri.

Inilah delapan agama asli nusantara yang eksistensinya terpinggirkan di negerinya sendiri. Meski sudah ada sejak lama di Indonesia, keberadaan mereka seperti dianaktirikan.

 

Add Comment