Candi Kethek di Dekat Candi Cetho, Pernah Jadi Istana Kera

Gunung Lawu tidak hanya memiliki sejuta keindahan panorama alam namun juga menyimpan nilai sejarah religi dan spiritual yang tinggi. Selain di gunung ini terdapat situs sejarah candi Sukuh dan candi Cetho, juga terdapat Candi kethek di kawasan ini.

Sekilas cerita tentang awal penemuan Candi Kethek yang dalam bahasa Jawa berarti kera.

Candi Kethek. Image: rebanas.com

Lokasi Candi Kethek

Candi Kethek ini terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar,  tepatnya sebelah timur laut Candi Cetho dan menempati lahan milik Perum Perhutani. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak sekitar 300 meter atau selama kurang lebih 15-20 menit.

Jalan setapak belum di paving namun masih berupa tanah dan menyeberangi sungai kecil yang kering ketika kemarau. Perlu berhati-hati ketika hujan karena akses jalannya agak licin. Di sampingnya terdapat jurang dan sedikit menanjak sehingga membutuhkan tenaga ekstra setelah sebelumnya menaiki anak tangga Candi Cetho.

Puri Taman Saraswati, beberapa ratus meter dari candi kethek

Puri Taman Saraswati, beberapa ratus meter dari candi. Image: klickberita.com

Simak juga: Sejarah Candi Prambanan, Dari Roro jongrang Sampai Rakai Pikatan

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Kethek ada baiknya singgah mengisi perut di warung-warung yang banyak terdapat di samping Candi Cetho. Jalur yang tidak mudah tapi tetap saja tidak mengurangi keindahan dan kesegaran khas pegunungan justru menambah sensasi perjalanan berwisata menikmati alam pegunungan sekaligus wisata sejarah disini.

Sejarah Candi Kethek

Sekilas cerita tentang awal penemuan Candi Kethek yang dalam bahasa Jawa berarti kera. Meskipun keberadaan candi ini sudah diketahui sejak tahun 1842, entah mengapa dalam rentang waktu sekian lama yaitu pada tahun 2000 baru ditemukan kembali oleh warga masyarakat dusun Cetho.

Sebelumnya dan sudah sejak lama bukit kawasan lokasi Candi ini merupakan tempat berkumpulnya atau boleh dibilang “istana” bagi kera-kera di lereng gunung Lawu bagian barat.

“Pelinggih” di undakan teratas candi kethek

“Pelinggih” di undakan teratas. Image: travel.kompas.com

Saking banyaknya kera yang berkumpul dan tebalnya semak belukar di kawasan ini membuat penduduk pencari kayu bakar enggan untuk mendekati. Sampai pada waktu tahun 1999 terjadi kebakaran hebat yang membuat kera-kera pergo. Mereka harus meninggalkan lokasi habitatnya yang telah dihuni beranak cucu sekian lama ke tempat yang lebih aman dan nyaman.

Sejak saat itulah lokasi Istana kera itu berani didekati penduduk untuk mencari kayu bakar. Kemudian ditemukanlah tumpukan/susunan batu-batuan diantara semak belukar yang ternyata berbentuk struktur bangunan berundak-undak.

Sampai saat ini pun sesekali dalam waktu tertentu masih sering penduduk bertemu dengan hewan kera. Candi ini dinamakan demikian karena penduduk setempat mempercayai bagian atas dari candi ini menyerupai Hanoman, tokoh pewayangan berwujud kera putih.

Tokoh anoman diyakini enjadi salahs atu mahluk mistis yang melindungi keberadaan candi Kethek

Anoman. Image: pikdo.net

SImak juga: Sejarah Misterius Candi Borobudur

Masa pendirian Candi Kethek dapat diketahui dengan membandingkan temuan arca dan arsitektur punden berundak-undak dengan candi-candi di lereng barat gunung Lawu. Candi ini sangat mirip dengan Candi Cetho dan Candi Sukuh. Waktu pendiriannya pun diperkirakan hampir sama dengan kedua candi tersebut yaitu pada sekitar abad XV-XVI Masehi.

Struktur Candi Kethek

Candi kethek menghadap ke barat dengan berbentuk teras berundak (4 teras). Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga. Pada teras pertama terdapat struktur bangunan di sisi timur laut. Anak tangga paling bawah terdapat arca kura-kura. Pada teras kedua dan ketiga terdapat dua struktur bangunan disisi utara dan sisi selatan.

Sedangkan pada teras keempat diperkirakan letak berdirinya bangunan Induk/Utama. Bangunan berundak yang terdiri dari 4 teras. Teras Keempat yang merupakan Bangunan Utama/Induk. Pada saat tertentu disini digunakan bersembahyang oleh penduduk dusun Cetho yang mayoritas umat agama Hindu

Candi Kethek denga suasana yang magis dan tenangs ering digunakans ebagai lokasi tirakat dan menyepi

Meditasi di Candi Kethek. Image: kriyayoganusantara

Penelitian Candi Kethek

Ekskavasi oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah bekerja sama dengan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar baru dilakukan pada tahun 2005.

Ekskavasi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa Candi Kethek merupakan candi Hindu. Hal ini didasarkan pada temuan arca kura-kura yang merupakan simbol Dewa Wisnu, salah satu dewa dalam ajaran agama Hindu.

Arca kura-kura sering dikaitkan dalam cerita mhitologi agama Hindu yaitu cerita Samudramanthana, cerita ini mengisahkan tentang pengadukan lautan susu untuk mencari Tirta Amerta, dengan demikian cerita Samudramanthana dapat menunjukkan fungsi Candi kethek sebagai tempat peruwatan untuk membebaskan seseorang dari kesalahan/dosa.

sembahyang di puri saraswati yang berlokasi hanya 300 meter dari candi kethek

Sembahyang di Puri Saraswati. Image: rebanas.com

Simak juga: Mengagumkannya 8 Agama Asli Nusantara

Hingga saat ini, penelitian mengenai Candi Kethek masih terus dilakukan, terutama untuk mencari prasasti atau artefak yang memberikan informasi mengenai tata letak candi.

Mungkin Candi kethek ini masih jarang diketahui karena memang tidak setenar Candi Sukuh dan Candi Cetho. Juga letaknya yang kurang strategis dan promosinya yang tidak segencar candi-candi saudaranya tersebut.

Alam yang sejuk dan indah, keheningan dan kejernihan hati dipadu kesakralan nilai sejarah peninggalan para Leluhur mampu menghipnotis kita untuk ingin kembali berkunjung ke Candi kethek setiap kali ada kesempatan.

Add Comment