Cerita Negeri Gagak Pembohong

Cerita Negeri Gagak Pembohong

Cerita Negeri Gagak Pembohong – Pada sesuatu hari, hiduplah seekor kukila gagak yang bagus batin serta tidak sempat sombong, tetapi ia kerap cemburu hati bila terdapat yang memanas- manasinya. Dari atas pohon ia senantiasa memantau binatang lain buat memantau keadaan sekitar, memberikan bantuan bila ada yang butuh dibantu.

Kebaikannya terkenal hingga ke arah hutan, seluruh binatang menganggapnya dewa pahlawan yang melindungi hutan. Suatu kala. Seluruh penunggu hutan terkumpul jadi satu, buat melakukan acara hutan.

Kegiatan pesta hutan umum di jalani 5 tahun sekali, buat memeringati hari kebersamaan antar binatang sehutan. Kegiatan itu dilaksanakan di pusat ataupun tengah hutan, tujuannya supaya seluruh binatang bida muncul seluruhnya.

Gagak jadi tamu ajakan spesial, ia memperoleh tempat bersandar istimewa di sisi raja hutan. Seluruh binatang memakluminya. Sebab memanglah gagak merupakan binatang yang layak bersandar di bangku itu.

Cerita Negeri Gagak Pembohong

Kayak biasa, sering terdapat tahap pertanyaan jawab antara raja hutan serta binatang lain penunggu hutan. Seluruhnya berjalan mudah, tetapi terdapat perihal yang ganjil terjadi, nampak seekor kukila pipit berada di sisi gagak,“ Seharusnya kalian yang jadi raja hutan, bukan ia,” bisik kukila pipit ke kuping gagak.

“Janganlah mengatakan semacam itu. Itu tidak bagus,”jawab gagak yang sebenarnya memikirkan perkataan tadi serta menginginkan jadi raja hutan.

“Kalian lumayan mengarang cerita buat jadi raja hutan, sampaikan pada seluruh binatang kalau hendak terdapat pemburu liar masuk ke hutan ini,” tanpa mengikuti balasan gagak pipit juga melambung ke atas kepala gajah. Setelah itu mencermati apa yang hendak dilakukan gagak.“ Mengapa tidak kita jalani pemilihan raja hutan?” jerit gagak percaya diri memotong pidato Singa si raja hutan.

Suasana jadi sepi, tidak terdapat satu binatang juga yang mengatakan apa- apa.“ Iya, mengapa tidak langsung melakukan penentuan?” jerit gajah yang membongkar suasana itu.

“Sebagian durasi kemudian, saya mengintai dari atas tumbuhan terdapat banyak peristiwa. Salah satunya hendak ada pemburu yang tiba 3 hari lagi, bila kamu tidak memilah saya jadi atasan kamu, maka saya tidak bakal menolong kamu melawan pemburu,” jerit gagak dengan sombong.

Rupanya selama berada di atas kepala gajah, kukila pipit itu menghasut seluruh binatang, buat melakukan penentuan.

Seluruh binatang jadi ketakutan, menjadikan raja hutan geram,“ ada apa dengan gagak ini, mengapa ia jadi berubah,” pikirnya dalam hati.“ Memanglah apa yang mau kamu jalani menolong kita?” pertanyaan raja hutan menegaskan perilaku gagak.

“Saya bakal mengacak- acak pemburu, supaya tidak masuk ke hutan ini,” jelasnya,“ mereka akan tiba, tetapi saya tidak akan memberitahukan dari mana arah mereka tiba.”

Baca Juga : Legenda Dewi Sri Yang Subur

Seluruh binatang berdiskusi, hingga gaduh.“ Telah, bila memanglah itu akan berlangsung, biarlah saya yang mundur jadi raja hutan, saya serahkan tahta ini kepadamu gagak. Saya cuma mau rakyatku jadi nyaman dan aman,” tandas raja hutan turun dari singgasana serta mempersilakan gagak buat beralih tempat.

“Segampang ini jadi raja hutan, cuma dengan bercerita narasi saja, dapat jadi raja,” gumam gagak yang berjalan dengan senang.

Rupanya, sepanjang ini terdapat monyet yang lalu mencermati gerak- gerik gagak sepanjang mengintai serta mengamankan hutan. “Tunggu, saya tidak sepakat!”pempim kumpulan monyet berdiskusi,“ saat sebelum seluruhnya ini jadi kekeliruan terbesar. Saya cuma mau memberitahukan, sepanjang ini gagak tidak bertugas dengan bagus, di cuma tidur di atas tumbuhan, tidak mengintai apa- apa.

Yang saya ketahui sepanjang ini burung pipitlah yang mengintai serta membagikan seluruh data pada gagak, supaya ia memberitahukan pada binatang yang terancam. Sebab suara gagak sedemikian itu keras,” jelasnya.

Gagak yang terkejut mendengar itu, mulai marah,“Bohong, itu seluruhnya bohong,” teriaknya hingga seluruh binatang terkejut memandang gagak.

“Iya benar, kita semua melihatnya,” nyata kumpulan kera yang menanggapi dengan bersama- sama,“ gagak cuma tidur.”

“Kalau begitu mengapa tidak pipit saja jadi raja hutan?” jerit para binatang.

Kesimpulannya, burung pipit juga berdiskusi,“ Saya sedia jadi raja hutan.”

Dor.. dor..

Suara senapan bersuara, tanda- tanda pemburu telah tiba. Gagak kegat, ia cuma mengarang cerita, namun justru jadi realitas. Gagak yang lagi bersandar di bangku kebesarannya, jadi target empuk pemburu, sebab letaknya cocok buat tertembak.

Author: Admin