10 Wanita Kuat, Penggerak Sejarah Bangsa Pada Masanya

Berbicara mengenai sosok wanita, ide yang muncul tentu adalah makhluk yang lemah gemulai. Sudah jamak dalam budaya patriaki yang mendominasi dunia, wanita di stereotip kan sebagai golongan kaum lemah. Namun stereotip ini tidak selamanya benar.

Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan sampai zaman modern, ini terdapat puluhan wanita-wanita kuat. Mereka selain cantik secara fisik juga punya kekuatan yang melebihi rata-rata pria. Wanita-wanita ini menjadi pemimpin pada zamannya, memajukan masyarakatnya, menggerakkan peradaban. Kemampuan mereka melebihi kemampuan pemimpin-pemimpin pria pada masanya bahkan masa masa setelahnya.

Untuk mengenang kekuatan dan keindahan dari wanita-wanita luar biasa ini, kali ini pemulung akan coba untuk memungut kisah-kisah tentang mereka. Untuk kemudian merangkai nya di dalam keranjang untuk dipersembahkan kepada anda semua.

10 Wanita Kuat

Berikut  10 Wanita Kuat yang merupakan sebagian dari demikian banyak wanita-wanita luar biasa itu.

  1. Ratu Shima

Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Kalingga sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran.

Ratu Shima. Image: deqibrhebumi

Simak juga: 8 Agama Asli Nusantara

Kerajaan Kalingga memiliki Maharani Sang Ratu Shima nan ayu, anggun, perwira, ketegasan beliau semerbak wangi di banyak negeri. Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaan luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan.

Dalam pemerintahan wanita kuat ini, Kerajaan Kalingga aman karena beraliansi dengan Kerajaan Sunda dan Galuh. Terutama karena sikap tegas dan dia sangat dicintai rakyat. Sang Ratu menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyat senantiasa jujur.

Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Kalingga sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Masa-masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang, tempat bersatu dua kepercayaan Hindu Budha.

Dalam hal bercocok tanam, wanita kuat ini merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencaharian dengan cara bertani atau bercocok tanam. Kerajaan Kalingga ratusan tahun yang lalu bersinar terang emas penuh kejayaan.

  1. Dyah Tulodong

Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjana Sanmatanuraga Uttunggadewa yaitu raja Medang periode Jawa Tengah, atau lazim dinamakan Kerajaan Mataram Kuno.

Prasasti Penampihan, yang mencatat eksistensi Dyah Tulodong. Image: jejakpiknik.com

Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjana Sanmatanuraga Uttunggadewa yaitu raja Medang periode Jawa Tengah, atau lazim dinamakan Kerajaan Mataram Kuno. Beliau memerintah sekitar tahun 919–924. Dyah Tulodong naik takhta menggantikan ayahnya Mpu Daksa.

Konon dengan gagah berani, wanita kuat dari Brang Kidul itu memimpin pasukan perempuannya menyerbu pusat kerajaan Erlangga di Medang. Serangan ini berhasil menduduki istana Watan Mas di kaki gunung Penanggungan. Karena terdesak, Erlangga bersama Narotama dan sisa pasukannya menyingkir ke utara lalu mendapat perlindungan kalangan pandita di daerah Patakan Lamongan.

Setelah merasa cukup kekuatan, dua tahun kemudian Erlangga bersama Narottama ganti menyerbu Brang Kidul dan berhasil menaklukkan wanita kuat ini. Dalam penaklukkan itu Erlangga menunjukkan jiwa besarnya dengan mengampuni Ratu Tulodong untuk tetap berkuasa di Brang Kidul sebagai bawahan Medang.

Duatu ketika terjadi bencana banjir besar melanda daerah Brang Kidul. Sebagai bentuk perhatian pada daerah bawahan, raja Erlangga membantu memulihkan bencana di Brang Kidul dengan membangun bendungan besar di selatan sungai Brantas yang kelak bernama Bendungan Maharaja di Waringin Pitu atau sekarang bernama desa Ringin Pitu Tulungagung.

  1. Tribhuwana Tunggadewi

Tribhuwana Tunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351.

Arca dewi Parwati sebagai perwujudan Tribhuwanottungadewi. Image: id.wikipedia.org

SImak juga: Pura indah di Bali

Tribhuwana Tunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351. Dari prasasti Singasari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Menurut Nagarakretagama, wanita kuat ini memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.

Peristiwa penting berikutnya dalam Pararaton adalah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat dilantik sebagai rakryan patih Majapahit tahun 1334. Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati makanan enak (rempah-rempah) sebelum berhasil menaklukkan wilayah kepulauan Nusantara di bawah Majapahit.

Pemerintahan wanita kuat Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.

  1. Syah Alam Barisyah

Wanita kuat Islam nusantara pertama yang tercatat menjadi ratu adalah Syah Alam Barisyah (1196-1225). Beliau yang memerintah Kerajaan Islam Perlak di Aceh. Dia naik tahta menggantikan ayahnya, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil 7Jauhan Berdaulat yang jatuh sakit dan kemudian lumpuh.

Dalam melaksanakan pemerintahan wanita kuat ini, beliau dibantu oleh adiknya, yakni Abdul Aziz Syah sebagai perdana menteri.

  1. Sultanah Nahrasiyah

Sultanah Nahrasiyah adalah seorang Ratu Kerajaan Samudra Pasai, saat ini menjadi kota Loksmawe Aceh Utara.

Koleksi Museum Aceh. Image: keluargakusmajadi

SImak juga: MAsakan Unik Indoensia Timur

Sultanah Nahrasiyah adalah seorang wanita kuat Ratu Kerajaan Samudra Pasai, saat ini menjadi kota Loksmawe Aceh Utara. Sultanah memerintah pada tahun 1405-1428 masehi. Ratu Nahrasiyah adalah putri dari Sultan Zainal Abidin Malikuldzahir yang turun tahta pada tahun 1405.  Sejak memerintah, Sutanah Nahrasiyah telah membawa perubahan besar pada Samudra Pasai.

Di dalam kompleks pemakaman kerajaan terdapat 38 batu pusara, dengan makam utama Sultan Malikussaleh dan Sultan Malikudzahir. Lain-lainnya adalah makam keluarga dan para pengawal kerajaan. Di bagian lain, tak jauh dari makam Malikussaleh, tepatnya mendekati bibir pantai Lhokseumawe, terdapat makam yang terlihat megah.

Nisan wanita kuat ini terbuat dari batu pualam dengan ukiran-ukiran kaligrafi Surat Yasin pada nisannya. Di samping itu tercantum pula ayat kursi, Surat Ali Imron ayat 18 dan 19, Surat Al Baqoroh ayat 285, 286 dan terpahat sebuah penjelasan dalam aksara Arab.

“Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci, Ratu yang terhormat almarhumah yang diampunkan dosanya Nahrasiyah.  Putri Sultan Zain al-Abidin putera Sultan Al Malikul Salih. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya, meninggal dunia dengan rahmat Allah pada  Senin, 17 Dzulhijah 832 Hijriah,” begitulah arti tulisan arab tersebut

  1. Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah puteri raja Demak Trenggana yang menjadi bupati di Jepara

Ratu Kalinyamat . Image: kumparan.com

Ratu Kalinyamat adalah puteri raja Demak Trenggana yang menjadi bupati di Jepara. Wanita kuat ini terkenal di kalangan Portugis sebagai sosok wanita pemberani. Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana, puteri Sultan Trenggono, raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat sebagaimana bupati Jepara sebelumnya (Pati Unus), bersikap anti terhadap Portugis. Pada tahun 1550 ia mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu.

Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekutuan Melayu dapat dipukul mundur, sementara pasukan Jepara masih bertahan.

Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang menewaskan 2.000 prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka.

Wanita kuat yang luar biasa ini tidak pernah jera. Pada tahun 1565 ia kembali memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative.

  1. I Dewa Agung Istri Kanya

Dewa Agung Istri Kanya dikenal karena memimpin perlawanan rakyat Klungkung menentang invasi Belanda di Desa Kusamba.

Patung Ida I Dewa Agung Istri Kanya di kota klungkung. Image: gudangsangpencipta

Simak juga: Upacara Adat Keramat di Indonesia

Ida I Dewa Agung Istri Kanya adalah ratu yang memimpin Bali dari tahun 1814 sampai dengan tahun 1850; ia dikenal sebagai “Ratu Perawan Klungkung. Dewa Agung Istri Kanya dikenal karena memimpin perlawanan rakyat Klungkung menentang invasi Belanda di Desa Kusamba.

Bersama Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung, wanita kuat ini mengarsiteki penyerangan balasan terhadap Belanda di Kusanegara yang berujung pada gugurnya pimpinan ekspedisi Belanda, Mayor Jenderal A.V. Michiels. Dewa Agung Istri Kanya dijuluki Belanda sebagai “wanita besi” karena telah mampu membunuh jenderal Belanda.

Selain memegang pemerintahan, Dewa Agung Istri juga sastrawan dengan menggubah kidung-kidung. Pada masanya, seni makekawin atau mebebasan berkembang pesat. Dewa Agung Istri Kanya bukan semata seorang penikmat karya sastra, dia juga seorang pengarang besar (pengawi) pada zamannya.

Karena kecintaan dan perhatiannya yang besar pada sastra itu kemudian menempatkannya sangat istimewa di mata para pengawi. Karena itu dia mendapat nama Naranatha Kanya (dalam Astikayana), Wirya Kanya (dalam Babad Dalem), Nrpakanya (dalam Prthadharma), di samping Nrpatiwadhu, Rajadayita, juga Narendra Dayita.

Karya-karya wanita kuat ini yang terkenal antara lain: Pralambang Bhasa Wewatekan dan Kidung Padem Warak, yang mengisahkan peristiwa-peristiwa yang paling mengesankan dalam hidupnya.

  1. Ratu Suhita

Dyah Suhita dinobatkan sebagai ratu Majapahit setelah masa Prabu Hayam Wuruk. Penobatan terjadi pada 1429 hingga wafat di tahun 1447.

Arca perwujudan Suhita, ratu Majapahit.. Image via: id.wikipedia.org

Dyah Suhita dinobatkan sebagai ratu Majapahit setelah masa Prabu Hayam Wuruk. Penobatan terjadi pada 1429 hingga wafat di tahun 1447.

Masa pemerintahan wanita kuat ini ditandai berkuasanya kembali anasir-anasir Nusantara. Berbagai tempat pemujaan didirikan di lereng-lereng gunung, dan bangunan-bangunan candi itu disusun sebagai punden berundak-undak, misalnya di lereng Gunung Penanggungan, Gunung Lawu, dan sebagainya.

Dyah Suhita wafat pada 1447, menyusul suaminya yang meninggal dunia terlebih dulu tepat 10 tahun sebelumnya. Lantaran pasangan ini tidak dikaruniai anak, maka yang dinobatkan sebagai penguasa Majapahit selanjutnya adalah Kertawijaya, adik bungsu Dyah Suhita. Kertawijaya adalah Raja Majapahit yang mulai memakai nama Brawijaya, sebagai pengingat akan pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya.

Tahun 1433, wanita kuat ini menghukum mati Raden Gajah. Peristiwa ini seolah menguatkan hubungan Dyah Suhita dengan Bhre Wirabhumi sebagai cucu dan kakek. Meskipun Dyah Suhita adalah anak Wikramawardhana, tetapi ibunya yang merupakan putri Bhre Wirabhumi, diperistri paksa, hanya sebagai selir pula.

  1. Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang mewarisi jiwa dan sifat ayahandanya yang sangat benci kepada penjajahan Belanda (VOC) dan memiliki patriotisme yang tinggi.

Monumen Nyi Ageng. Image: www.indoplaces.com/mod.php?mod=indonesia&op=view_region&regid=4061

Simak juga: Senjata Pusaka Tradisional Indonesia

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi lahir di Serang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1762. Beliau adalah putri bungsu dari Bupati Serang, Panembahan Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Purwodadi-Sragen.

Dalam kepemimpinan ayahnya, Kota Serang menjadi terkenal menjadi markas besar perjuangan Natapraja atau Penembahan Natapraja, yaitu rekan perjuangan Mangkubumi dalam Perang Giyanti. Nyi Ageng Serang mewarisi jiwa dan sifat ayahandanya yang sangat benci kepada penjajahan Belanda (VOC) dan memiliki patriotisme yang tinggi.

Dalam suatu pertempuran yang sangat sengit putra Penembahan Natapraja, saudara laki-laki dari wanita kuat ini  gugur. Pimpinan dipegang langsung sendiri oleh Nyi Ageng Serang dan berjuang terus dengan gagah berani.

Namun demikian, karena jumlah dan kekuatan musuh memang jauh lebih besar, sedangkan rekan seperjuangannya yaitu Pangeran Mangkubumi tidak membantu lagi karena mengadakan perdamaian dengan Belanda berdasarkan perjanjian Giyanti.

Maka akhirnya pasukan Serang terdesak, dan banyak yang gugur sehingga tidak mungkin melanjutkan perlawan lagi. Walaupun sudah terdesak, wanita kuat ini tidak mau menyerahkan diri. Sampai akhirnya tertangkap dan menjadi tawanan Belanda.

  1. Megawati Soekarno Putri

Beliau merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan puteri dari presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi Presiden Indonesia.

Megawati Soekarno Putri. Image: supermakss.com

Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri atau biasa disapa dengan panggilan “Mbak Mega” lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947. Beliau adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004.

Beliau merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan puteri dari presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi Presiden Indonesia.

Tahun 1986 Beliau mulai masuk ke dunia politik, sebagai wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI.

Namun, pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Mega tidak menerima pendongkelan dirinya dan tidak mengakui Kongres Medan. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor DPP PDI. Namun, Soerjadi yang didukung pemerintah memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI yang terletak di Jalan Diponegoro.

Ancaman Soerjadi kemudian menjadi kenyataan. Tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Aksi penyerangan yang menyebabkan puluhan pendukung Mega meninggal itu.

Peristiwa penyerangan kantor DPP PDI tidak menyurutkan langkah wanita kuat ini. Tak pelak, PDI pun terpisah menjadi PDI di bawah Soerjadi dan PDI pimpinan Mega. Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Namun, massa PDI lebih berpihak pada Mega.

Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam masa pemerintahannyalah, pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia.

 

Add Comment